Wednesday, October 3, 2012

PROGRAM INOVATIF MANAJEMEN FKP UNAIR ANGKATAN 2007 DI RUANG MERAK RSUD DR SOETOMO SURABAYA

MANAJEMEN ORAL HYGIENE BAGI PASIEN KEMOTERAPI DI RUANG MERAK DR
SOETOMO SURABAYA
By: Ners Kartika Nurhayati, Dian Sri, Eni P, Fatiyah Malihah, Indar P, dll

PENGKAJIAN DENGAN PENDEKATAN "PICOT"


http://medscape.com
Berdasarkan hasil pengkajian data di atas, diketahui bahwa mayoritas kasus yang berada di ruang Merak RSUD Dr Soetomo pada bulan Juni 2012 adalah penyakit kanker dengan urutan tiga besar teratas yaitu kanker serviks, kanker ovarium dan kista ovarium. Rata-rata jenis tindakan yang diterima pada pasien yang dirawat di Ruang Merak adalah perawatan pro dan pos opresai, transfusi darah, kemoterapi, radiasi/USG (Ultra Sonogrfi) dan perawatan paliatif. Jenis terapi yang paling banyak dilakukan oleh ruangan adalah terapi kemoterapi. Hal ini ditunjukkan dari data jumlah pasien yang mendapatkan tindakan kemoterapi pada bulan Juli 2012 sebanyak 204 pasien, dengan rata-rata perhari sekitar 6,8% atau 6 pasien yang mendapatkan tindakan kemoterapi. Pada hasil survey yang dilakukan selama 2 hari (30-31 juli 2012) di ruang Merak didapatkan bahwa dari 11 orang pasien dengan tindakan kemoterapi, 8 pasien (72,72%) mengeluhkan rasa pahit, sariawan dan mulut kering yang diikuti dengan penurunan nafsu makan. Tiga diantara 8 pasien tersebut juga disertai dengan mual-mual. Hal ini menyebabkan rasa yang tidak nyaman pada mulut sehingga asupan nutrisi tidak adekuat. Asupan nutrisi yang tidak adekuat bagi pasien-pasien dengan kemoterapi dapat menyebabkan menurunnya keadaan umum pasien dan memperpanjang waktu tinggal di rumah sakit.
Hasil review 10 journal dengan kata kunci chemotherapy, oral complication, dry mouth, oral hygiene, and saline normal (seperti yang dilampirkan pada table 2.1) menunjukkan bahwa pada umumnya komplikasi oral setelah tindakan kemoterapi adalah mucositis, neurological dan gangguan gigi, hiposialia, xerostomia (mulut kering), infeksi, perdarahan, dan osteonecrosis. Daerah yang sering diserang adalah jaringan lunak pada bibir, mukosa mulut, lidah, palatum, dan mukosa faring. Berkaitan dengan data di atas, maka permasalahan yang paling menonjol pada pasien kemoterapi di ruang merak adalah xerostomia (mulut kering) dan gangguan pada rasa/ mulut pahit. Perubahan significan terhadap perubahan rasa di mulut muncul pada 1 minggu (terjadi pada 2-3 hari setelah kemoterapi dan mencapai puncak 10 hari) dan berkurang dengan significan 3 minggu setelah pemberian kemoterapi. Jika gejala xerostomia ini tidak ditangani maka dapata menyebabkan mukositis. Hal ini ditunjukkan dari significant korelasi antara mucositis dengan kejadian mulut kering setelah 1-2 minggu (Rho =0.56  to 0.62; p <  0.01) (Ohrn, 2001). Xerostomia terjadi karena reaksi obat kemotarapi yang memblok fungsi saraf parasimpatik sehingga produksi kelenjar saliva berkurang. Penurunan jumlah saliva dalam rongga mulut menurunkan pH mulut sehingga bakteri atau jamur dapat tumbuh di mulut jika didukung oleh personal hygiene yang kurang baik. Hal ini juga dapat menimbulkan ulcerasi oral yang lambat laun bias menjadi mukositis. Inadekuat saliva meminimalkan the dissolution of tastants from food so the taste buds are not activate. Selain itu, berdasarkan hasil observasi mayoritas kemoterapi yang digunakan oleh pasien kanker di ruang merak adalah paclitacel, cisplatin, dan 5-FU (5 Flourourasil). Menurut Wohlschlaeger (2004), paclitacel dan 5-FU dapat memberikan efek pada mukosa mulut atau mucositis. KOndisi lapangan ini menunjukkan bahwa pada pasein kemoterapi yang dirawat di ruang merak memiliki resiko mengalami mucositis dan resiko ini lebih tinggi terjadi pada pasien kemoterapi yang juga menunjukkan tanda-tanda awal berupa mulut kering dan terasa pahit.
Pemberian terapi terhadap keluhan mulut kering dan pahit selama ini masih belum ada tindakan spesifik untuk mengatasinya. Terapi klinik yang selama ini diberikan hanya memperhatikan jumlah makan pasien kemoterapi untuk mengurangi rasa pahit. Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat klinik tidak ada lagi tindakan yang diberikan untuk mengatasi mulut pahit dan kering, sehingga perlu adanya tindakan kelanjutan lagi untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah dengan memberikan penjadwalan untuk melakukan oral hygiene. Cara ini didukung dari beberapa jurnal yang telah ditemukan sesuai pada lampiran table 2.1. Oral hygiene dilakukan dengan cara berkumur selama kurang lebih 2 menit menggunakan mouthwash. Pada umumnya, prinsip dari mouthwashes yang digunakan adalah yang dapat membersihkan debris dan dapat menjaga kelembaban mulut. Mouthwash seharusnya bersifat irritating and nondehydrating untuk mengoptimalkan fungsi penghancuran debris (Miller & Kearney, 2001 dalam Wohlschlaeger, 2004). Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menguji berbagai mouthwoush yang paling efektif dan aman untuk digunakan. Dari berbagai penelitian tersebut normal saline merupakan larutan yang paling aman dan sampai saat ini belum ditemukan efek samping dan perlu penelitian lebih lanjut. Normal saline adalah larutan nonirritant dan tidak merubah pH saliva sehingga mungkin lebih efektif dari mouthwash yang menggunakan regimen astringent. Diharapkan cara tersebut dapat mengurangi rasa tidak nyaman pada mulut pasien (mulut kering dan pahit) post kemoterapi untuk jangka pendek dan mencegah mual muntah atau mucositis untuk jangka panjang.selain itu, keuntungan lain menggunakan normal salin adalah harga yang ekonomis, aman dan mudah digunakan.
Prosedur penerapan oral hygiene dengan menggunakan mouthwash yang berisi normal salin yaitu:
1.                  Lakukan pengkajian terhadap keluhan pasien setelah pemberian kemoterapi
2.                  Jika pasien mengeluhkan ketidaknyamanan pada mulut baik itu mulut kering, pahit atau nyeri maka anjurkan klien untuk berkumur dengan normal salin 0.9% sebanyak 4 kali sehari.
a.          30 menit setelah sarapan pagi
b.         6 jam setelah berkumur yang pertama
c.          6 jam setelah berkumur yang kedua
d.         30 menit setelah makan malam terakhir
3.                  Anjurkan klien untuk tetap gosok gigi seperti biasanya
4.                  Anjurkan klien untuk tidak makan selama 1 jam setelah menggunakan mouthwash
Prosedur ini dilakukan 7-10 hari setelah tindakan kemoterapi


10 Referensi  Jurnal Intervensi Inovatif “ Management Oral  Hygiene Pada Pasien Dengan Tindakan Kemoterapi” 


No
Penulis
Judul
Hasil
1.
Rohini Sharma, Peter Tobin, Stephen J Clarke
Management of chemotherapy-induced nausea, vomiting, oral mucositis, and diarrhea
The Lancet Oncology, Volume 6, Issue 2, Pages 93-102, 2009
There is no standard prophylactic regimen for chemotherapy-induced mucositis. The most common treatment is optimum care of the mouth by use of mouthwashes.
2
B. Borowski, E. Benhamou, J.L. Pico, A. Laplanche, J.P. Margainaud, M. Hayat

Prevention of oral mucositis in patients treated with high-dose chemotherapy and bone marrow transplantation: A randomised controlled trial comparing two protocols of dental care
Volume 30, Issue 2, 1994, Pages 93–97
Although statistically significant, the superiority of intensive oral hygiene care is not clinically impressive. However, reservations concerning tooth-brushing during aplasia can now be lifted.
3
Michael Wiseman
The Treatment of Oral Problems in the Palliative Patient
JADC, Juni 2006, Vol. 72, No 5
Nausea and vomiting in palliative care patients may have many causes, including chemotherapy, opioid use, bowel obstruction, pancreatitis and electrolyte imbalance, or they may be movement induced or even an emotional reaction. Vomiting has a caustic effect on the hard tissues and can also increase the morbidity of mucositis. oral hygiene is very important in palliative care patients. Oral hygiene is very important in palliative care patients.
4.
Nor Azee Azwa Binti Kamarudin
Prevalansi komplikasi oral akibat kemoterapi pada pasien kanker di RSUP H. Adam Malik Medan
Kemoterapi kanker menimbulkan komplikasi oral terhadap penderita yang mendapatkan perawatan kemoterapi.  Frekuensi komplikasi oral tergantung pada jenis obat kemoterapi yan diterima. Obat kemoterapi yang paling banyak menimbulkan komplikasi oral adalah glonga alkylating agnt yatu cisplatin dan cylophosphamide, antibiotic yaitu doxorubicin dan epirubicin serta antimetabolite yaitu 5-fluorouacil. Komplikasi oral akibat obat kemoterapi kanker tidak akan terjadi pada penderita kanker dengan oral hygiene yang baik dan mendapat perawatan gigi dan mulu terlebih dahulu sebelum menerima perawatan kemoterapi.

No comments: