MANAJEMEN ORAL HYGIENE BAGI PASIEN KEMOTERAPI DI RUANG MERAK DR
SOETOMO SURABAYA
By: Ners Kartika Nurhayati, Dian Sri, Eni P, Fatiyah Malihah, Indar P, dll
PENGKAJIAN DENGAN PENDEKATAN "PICOT"
| http://medscape.com |
Hasil review 10 journal dengan kata kunci chemotherapy, oral complication, dry mouth,
oral hygiene, and saline normal (seperti yang dilampirkan pada table 2.1) menunjukkan bahwa pada umumnya
komplikasi oral setelah tindakan kemoterapi adalah mucositis, neurological dan
gangguan gigi, hiposialia, xerostomia (mulut kering), infeksi, perdarahan, dan
osteonecrosis. Daerah yang sering diserang adalah jaringan lunak pada bibir,
mukosa mulut, lidah, palatum, dan mukosa faring. Berkaitan dengan data di atas,
maka permasalahan yang paling menonjol pada pasien kemoterapi di ruang merak
adalah xerostomia (mulut kering) dan gangguan pada rasa/ mulut pahit. Perubahan
significan terhadap perubahan rasa di mulut muncul pada 1 minggu (terjadi pada 2-3 hari setelah kemoterapi dan mencapai
puncak 10 hari) dan berkurang dengan significan 3 minggu setelah
pemberian kemoterapi. Jika gejala xerostomia ini tidak ditangani maka dapata
menyebabkan mukositis. Hal ini ditunjukkan dari significant korelasi antara
mucositis dengan kejadian mulut kering setelah 1-2 minggu (Rho =0.56 to 0.62; p < 0.01) (Ohrn, 2001). Xerostomia terjadi karena
reaksi obat kemotarapi yang memblok fungsi saraf parasimpatik sehingga produksi
kelenjar saliva berkurang. Penurunan jumlah saliva dalam rongga mulut
menurunkan pH mulut sehingga bakteri atau jamur dapat tumbuh di mulut jika
didukung oleh personal hygiene yang kurang baik. Hal ini juga dapat menimbulkan
ulcerasi oral yang lambat laun bias menjadi mukositis. Inadekuat saliva
meminimalkan the dissolution of tastants
from food so the taste buds are not activate. Selain itu, berdasarkan hasil
observasi mayoritas kemoterapi yang digunakan oleh pasien kanker di ruang merak
adalah paclitacel, cisplatin, dan 5-FU (5 Flourourasil). Menurut Wohlschlaeger (2004), paclitacel dan 5-FU dapat
memberikan efek pada mukosa mulut atau mucositis. KOndisi lapangan ini
menunjukkan bahwa pada pasein kemoterapi yang dirawat di ruang merak memiliki
resiko mengalami mucositis dan resiko ini lebih tinggi terjadi pada pasien
kemoterapi yang juga menunjukkan tanda-tanda awal berupa mulut kering dan
terasa pahit.
Pemberian terapi terhadap keluhan mulut kering dan
pahit selama ini masih belum ada tindakan spesifik untuk mengatasinya. Terapi
klinik yang selama ini diberikan hanya memperhatikan jumlah makan pasien
kemoterapi untuk mengurangi rasa pahit. Berdasarkan hasil wawancara dengan
perawat klinik tidak ada lagi tindakan yang diberikan untuk mengatasi mulut
pahit dan kering, sehingga perlu adanya tindakan kelanjutan lagi untuk
mengatasi masalah tersebut. Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah
dengan memberikan penjadwalan untuk melakukan oral hygiene. Cara ini didukung
dari beberapa jurnal yang telah ditemukan sesuai pada lampiran table 2.1. Oral
hygiene dilakukan dengan cara berkumur selama kurang lebih 2 menit menggunakan mouthwash. Pada umumnya, prinsip dari
mouthwashes yang digunakan adalah yang dapat membersihkan debris dan dapat
menjaga kelembaban mulut. Mouthwash seharusnya bersifat irritating and
nondehydrating untuk mengoptimalkan fungsi penghancuran debris (Miller & Kearney, 2001 dalam Wohlschlaeger, 2004).
Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menguji berbagai mouthwoush yang
paling efektif dan aman untuk digunakan. Dari berbagai penelitian tersebut
normal saline merupakan larutan yang paling aman dan sampai saat ini belum
ditemukan efek samping dan perlu penelitian lebih lanjut. Normal saline adalah
larutan nonirritant dan tidak merubah pH saliva sehingga mungkin lebih efektif
dari mouthwash yang menggunakan regimen astringent. Diharapkan cara
tersebut dapat mengurangi rasa tidak nyaman pada mulut pasien (mulut kering dan
pahit) post kemoterapi untuk jangka pendek dan mencegah mual muntah atau
mucositis untuk jangka panjang.selain itu, keuntungan lain menggunakan normal
salin adalah harga yang ekonomis, aman dan mudah digunakan.
Prosedur penerapan oral hygiene dengan menggunakan
mouthwash yang berisi normal salin yaitu:
1.
Lakukan pengkajian terhadap keluhan
pasien setelah pemberian kemoterapi
2.
Jika pasien mengeluhkan ketidaknyamanan
pada mulut baik itu mulut kering, pahit atau nyeri maka anjurkan klien untuk
berkumur dengan normal salin 0.9% sebanyak 4 kali sehari.
a.
30 menit setelah sarapan pagi
b.
6 jam setelah berkumur yang pertama
c.
6 jam setelah berkumur yang kedua
d.
30 menit setelah makan malam terakhir
3.
Anjurkan klien untuk tetap gosok gigi
seperti biasanya
4.
Anjurkan klien untuk tidak makan selama
1 jam setelah menggunakan mouthwash
Prosedur ini
dilakukan 7-10 hari setelah tindakan kemoterapi10 Referensi Jurnal Intervensi Inovatif “ Management Oral Hygiene Pada Pasien Dengan Tindakan Kemoterapi”
No
|
Penulis
|
Judul
|
Hasil
|
1.
|
Rohini Sharma,
Peter Tobin, Stephen J Clarke
|
Management of
chemotherapy-induced nausea, vomiting, oral mucositis, and diarrhea
The Lancet Oncology, Volume 6, Issue 2, Pages 93-102, 2009 |
There is no
standard prophylactic regimen for chemotherapy-induced mucositis. The most
common treatment is optimum care of the mouth by use of mouthwashes.
|
2
|
B. Borowski, E. Benhamou, J.L. Pico, A. Laplanche, J.P.
Margainaud, M. Hayat
|
Prevention
of oral mucositis in patients treated with high-dose chemotherapy and bone
marrow transplantation: A randomised controlled trial comparing two protocols
of dental care
Volume 30, Issue 2, 1994, Pages 93–97
|
Although
statistically significant, the superiority of intensive oral
hygiene care is not clinically impressive. However, reservations
concerning tooth-brushing during aplasia can now be lifted.
|
3
|
Michael Wiseman
|
The Treatment of Oral Problems in the Palliative Patient
JADC, Juni
2006, Vol. 72, No 5
|
Nausea and
vomiting in palliative care patients may have many causes, including
chemotherapy, opioid use, bowel obstruction, pancreatitis and electrolyte
imbalance, or they may be movement induced or even an emotional reaction.
Vomiting has a caustic effect on the hard tissues and can also increase the
morbidity of mucositis. oral hygiene is very important in palliative care
patients. Oral hygiene is very important in palliative care patients.
|
4.
|
Nor Azee Azwa Binti Kamarudin
|
Prevalansi komplikasi oral akibat kemoterapi pada pasien kanker di RSUP
H. Adam Malik Medan
|
Kemoterapi
kanker menimbulkan komplikasi oral terhadap penderita yang mendapatkan
perawatan kemoterapi. Frekuensi
komplikasi oral tergantung pada jenis obat kemoterapi yan diterima. Obat kemoterapi
yang paling banyak menimbulkan komplikasi oral adalah glonga alkylating agnt
yatu cisplatin dan cylophosphamide, antibiotic yaitu doxorubicin dan
epirubicin serta antimetabolite yaitu 5-fluorouacil. Komplikasi oral akibat
obat kemoterapi kanker tidak akan terjadi pada penderita kanker dengan oral
hygiene yang baik dan mendapat perawatan gigi dan mulu terlebih dahulu
sebelum menerima perawatan kemoterapi.
|
No comments:
Post a Comment