by Ns Kartika Nurhayati, Ns. Aulya A, Ns dendhy S
2.1 Konsep Balita
2.1.1 Pengertian Balita
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun
atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H,
2006).
Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY (2010), Balita adalah istilah umum
bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat usia
batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan
penting, seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan
berjalan sudah bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas.
Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang
manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan
pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang
di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah
terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan.
2.1.2 Faktor yang
Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang, antara lain :
1.
Faktor Genentik (berbagai faktor
bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa
2.
Faktor Lingkungan
a.
Faktor Pranatal meliputi gizi pada
waktu hamil, mekanis, toksin, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas,
anoksia embrio
b.
Faktor Postnatal meliputi faktor
lingkungan biologis (ras, jenis kelamin, umur, gizi, kepekaan terhadap
penyakit, perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan hormon), faktor lingkungan
fisik (cuaca, musim, sanitasi, lingkungan rumah), faktor lingkungan sosial (stimulasi,
motivasi belajar, stress, kelompok sebaya, ganjaran atau hukuman yang wajar, cinta
dan kasih sayang).
2.1.3 Karakteristik Balita
Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak
usia 1 – 3 tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3
tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang
disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia
pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Namun perut
yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam
sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh karena itu,
pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.
Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat
memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan
lingkungannya atau bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa
perubahan dalam perilaku. Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes
sehingga mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Pada masa ini
berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang
mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula
bahwa anak perempuan relatif lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila
dibandingkan dengan anak laki-laki (BPS, 1999).
2.1.4
Tumbuh Kembang Balita
1.
Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita umur motorik kasar motorik halus komunikasi/bicara sosial/kemandirian:
a.
1 bulan tangan & kaki bergerak aktif kepala menoleh ke samping kanan dan kiri Bereaksi
terhadap bunyi lonceng menatap wajah ibu/pengasuh.
b.
2 bulan mengangkat kepala ketika tengkurap bersuara tersenyum spontan
c.
3 bulan kepala tegak ketika didudukan memegang mainan, tertawa/berteriak memandang tangannya
d.
4 bulan tengkurap-terlentang sendiri
e.
5 bulan meraih, menggapai menoleh ke suara meraih mainan
f.
6 bulan duduk tanpa berpegangan memasukkan biskuit ke mulut
g.
7 bulan mengambil mainan dengan tangan kanan dan kiri bersuara ma, ma…
h.
8 bulan berdiri berpegangan
i.
9 bulan menjimpit melambaikan tangan
j.
10 bulan memukul mainan di kedua tangan bertepuk tangan
k.
11 bulan memanggil mama, papa menunjuk,
meminta
l.
12 bulan berdiri tanpa berpegangan memasukkan mainan ke cangkir bermain dengan orang lain
m.
15 bulan berjalan mencoret-coret berbicara 2 kata minum dari gelas
n.
1,5 tahun lari naik tangga menendang bola menumpuk 2 mainan berbicara beberapa kata (mimik, pipis) memakai sendok, menyuapi boneka
o.
2 tahun menumpuk 4 mainan menunjuk gambar (bola,kucing) menggabungkan beberapa kata (mama pipis) menunjuk bagian tubuh
(mata, mulut) melepas pakaian, memakai pakaian, menyikat gigi
p.
2,5 tahun melompat mencuci tangan dan mengeringkan tangan
q.
3 tahun menggambar garis tegak menyebutkan warna benda, menyebutkan penggunaan benda (gelas untuk
minum) menyebutkan
nama teman memakai
baju kaos
r.
3,5 tahun berdiri 1 kaki menggambar lingkaran, menggambar tanda tambah, menggambar manusia
(kepala,badan, kaki)
s.
4 tahun memakai baju tanpa dibantu
t.
4,5 tahun bermain kartu, menyikat gigi tanpa dibantu
u.
5 tahun menghitung mainan
2.
Fase
psikoseksual
Balita memasuki fase
anal dan perlu untuk diajari tentang toilet
training
3.
Fase
psikososial:
Otonomi vs ragu – ragu. Negativisme dari otonomi
adalah tempertantrum dan Sibling.
4.
Fase
kognitif
Balita memasuki fase prekonseptual dan bersifat
egosentris
2.2 Konsep Gizi
2.2.1 Pengertian Gizi
Istilah “gizi” dan
“ilmu gizi” di Indonesia baru dikenal sekitar tahun 1952-1955 sebagai
terjemahan kata bahasa Inggris nutrition. Kata gizi berasal dari bahasa Arab
“ghidza” yang berarti makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi.
Selain itu sebagian orang menterjemahkan nutrition dengan mengejanya sebagai
”nutrisi”. Terjemahan ini terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
Badudu-Zain tahun 1994.
WHO mengartikan ilmu
gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada organisme hidup.
Proses tersebut mencakup pengambilan dan pengolahan zat padat dan cair dari
makanan yang diperlukan untuk memelihara kehidupan, pertumbuhan, berfungsinya
organ tubuh dan menghasilkan energi.
Zat gizi (nutrien) adalah ikatan kimia yang
diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi,
membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan.
Makanan setelah dikonsumsi mengalami proses pencernaan. Bahan makanan diuraikan
menjadi zat gizi atau nutrien. Zat tersebut selanjutnya diserap melalui dinding
usus dan masuk kedalam cairan tubuh.
2.2.2 Manfaat Gizi Bagi Tumbuh
Kembang
Fungsi zat gizi atau zat makanan:
1) Sebagai sumber energi atau tenaga
2) Menyokong pertumbuhan badan
3) Melihara jaringan tubuh, mengganti yang rusak terpakai
4) Mengatur metabolisme dan mengatur barbagai
keseimbangan missal cairannya keseimbangan air, keseimbangan asam basa, dan keseimbangan
mineral di dalam tubuh.
5) Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap
berbagai penyakit, misalnya sebagai anti tiksin dan anti bodi.
Fungsi zat gizi tersebut dapat dipenuhi dengan
melengkapi berbagai jenis zat gizi anara lain:
1) Hidrat arang atau karbohidrat
Di
dalam tubuh, karbohidrat merupakan sumber energy, dari tiga sumber utama yaitu
karbohidrat, lemak, dan protein, karbohidrat merupakan sumber energy yang
paling murah, terdiri dari dua jenis yaitu karbohidrat sederhana seperti
tepung, beras, jagung, dan gandum.
2) Protein
Merupakan
zat gizi yang sangat penting, karena yang sangat erat hubunganya dengan
proses-proses kehidupan yaitu dibutuhkan untuk pertumbuhan. Sumber protein
terdapat dalan ikan, susu, telur, kacangkacangan, tahu, tempe.
3) Lemak
Lemak
merupakan ikatan organik yang terdiri dari unsur-unsur carbon (C), Hidrogen
(H), san Oksigen (O) yang mempunyai sifat larut dalam zat-zat pelarut tertentu
(zat pelarut lemak) seperti protein benzene, ether. Jaringan lemak didalan tubuh
merupakan simpanan atau cadangan energy yang kelebihan dan tidak dsipakai.
Lemak juga merupakan vitamin A, D, E, K dan sumber tersebut terdapat dalam minyak
goring, margarine, mentega dan lemak hewan atau lemak tumbuhan.
4) Vitamin (sumber zae pengatur)
Fungsi
vitamin secara umum berhubungan erat dengan enzim terutama kelompok vitamin B.
enzim merupakan katalidator organic yang menjalankan dan mengatur reaksi-reaksi
biokimia si salam tubuh. Masing-masing vitamin badan dalam jumlah tertentu.
Terlalu banyak maupun terlalu banyak maupun terlalu sedikit vitamin yang
tersedia bagi badan memberikan tingkatan kesehatan yang kutang.
5) Mineral
Sekitar
4% dari tubuh kita terdiri dari mineral, mineral tersebut berguna untuk
menumbuhkan dan memperkuat jaringan serta mengatur keseimbangan cairan tubuh.
2.2.3 Penilaian Status Gizi
Status gizi adalah
keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.
Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk
terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik bagi seseorang akan
berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses
pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian konsumsi
pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif.
Menurut Depkes (2002),
status gizi merupakan tanda-tanda penampilan seseorang akibat keseimbangan
antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang
dikonsumsi pada suatu saat berdasarkan pada kategori dan indikator yang digunakan.Dalam
menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut
reference. Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia adalah World
Health Organization – National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS).
Berdasarkan baku WHO - NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi
lebih untuk over weight, termasuk
kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild
dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat,
Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk
marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwasiorkor.
Status gizi ditentukan
oleh ketersediaan semua zat gizi dalam jumlah dan kombinasi yang cukup serta
waktu yang tepat. Dua hal yang penting adalah terpenuhi semua zat gizi yang
dibutuhkan tubuh dan faktor-faktor yang menentukan kebutuhan, penyerapan dan
penggunaan zat gizi tersebut.
Ada beberapa cara
mengukur status gizi anak, yaitu dengan pengukuran antropometrik, klinik,
laboratorik. Diantara ketiganya, pengukuran antropometrik adalah yang paling
relatif sederhana dan banyak dilakukan. Kata antropometri berasal dari bahasa
latin antropos dan metros. Antropos artinya tubuh dan metros artinnya ukuran.
Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian dari sudut pandang gizi,
antropometri adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh
dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis
ukuran tubuh antara lain : berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan
tebal lemak di bawah kulit. Dari beberapa pengukuran tersebut berat badan,
tinggi badan dan lingkar lengan sesuai dengan usia adalah yang paling sering
dilakukan dalam survei gizi. Untuk keperluan perorangan dan keluarga,
pengukuran Berat Badan (BB) dan kadang-kadang Tinggi Badan (TB) atau Panjang
Badan (PB) adalah pengukuran yang paling banyak dilakukan. Indeks antropometri
adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri bisa merupakan
rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang
dihubungkan dengan umur. Ada beberapa indeks antropometri yang umum dikenal
yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), Berat
Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Indikator BB/U menunjukkan secara sensitif
status gizi saat ini (saat diukur) karena mudah berubah. Namun indikator BB/U
tidak spesifik karena berat badan selain dipengaruhi oleh U juga dipengaruhi
oleh TB. Indikator TB/U menggambarkan status gizi masa lalu, dan indikator
BB/TB menggambarkan secara sensitif dan spesifik status gizi saat ini. Untuk
mengetahui apakah berat badan dan tinggi badan normal, lebih rendah atau lebih
tinggi dari yang seharusnya, dilakukan perbandingan dengan suatu standar
internasional yang ditetapkan oleh WHO. Pada dasarnya perhitungan BB/U, TB/U
seorang anak didasari pada nilai Z-nya (relatif deviasinya). Cut off point
(nilai ambang batas) untuk tiap indikator status gizi baik adalah +2 SD dan
status gizi < - 3SD dikategorikan sebagai kurang gizi berat.
- Indikator Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Indikator BB/U dapat normal, lebih,
rendah, atau lebih tinggi setelah dibandingkan dengan standar WHO. Apabila BB/U
normal, digolongkan pada status gizi baik, BB/U rendah dapat berarti status
gizi kurang atau buruk. Sedang BB/U tinggi dapat digolongkan status gizi lebih.
Baik status gizi kurang maupun status gizi lebih kedua-duanya mengandung resiko
yang tidak baik bagi kesehatan. Status gizi kurang yang diukur dengan indikator
BB/U di dalam ilmu gizi dikelompokkan kedalam kelompok “berat badan rendah”
(BBR) atau underweight. Menurut tingkat keparahannya BBR dikelompokkan lagi
kedalam kategori BBR tingkat ringan (mild), sedang (moderate), dan berat
(severe). BBR tingkat berat atau sangat buruk. Menurut standar WHO-NCHS maka
indikator BB/U dikelompokkan atas gizi lebih jika nilai Z score > + 2 SD,
gizi baik jika nilai Z score diantara - 2 SD s/d + 2 SD, gizi kurang jika nilai
Z score diantara > - 3SD s/d < - 2 SD dan gizi buruk jika nilai Z score
< - 3 SD. Penggunaan indikator BB/U
sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan
indikator BB/U yaitu dapat dengan mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat
umum, sensitif untuk melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek,
dapat mendeteksi kegemukan. Sedangkan kelemahan indikator BB/U yaitu
interpretasi status gizi dapat keliru apabila terdapat pembengkakan atau
oedema, data umur yang akurat sering sulit diperoleh terutama di negara-negara
yang sedang berkembang, kesalahan pada saat pengukuran karena pakaian anak yang
tidak dilepas/dikoreksi dan anak yang bergerak terus, masalah sosial budaya
setempat yang mempengaruhi orang tua untuk tidak mau menimbang anaknya karena
dianggap sebagai barang dagangan.
- Indikator Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
TB/U dapat digunakan sebagai indeks
status gizi populasi karena merupakan estimasi keadaan yang telah lalu atau
status gizi kronik. Seorang yang tergolong pendek “pendek tak sesuai umurnya”
(PTSU) kemungkinan keadaan gizi masa lalu tidak baik. Dalam keadaan normal tinggi
badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur. Pertambahan tinggi atau
panjang badan relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat.
Pengaruh kurang gizi terhadap pertumbuhan tinggi badan baru terlihat dalam
waktu yang cukup lama. Menurut standar WHO-NCHS indikator TB/U dikelompokkan
atas normal jika nilai Z score > 2 SD dan pendek/stunted jika nilai Z score
< - 2 SD. Penggunaan indikator TB/U sebagai indikator status gizi memiliki
kelebihan dan kelemahan. Kelebihan indikator TB/U yaitu dapat memberikan
gambaran riwayat keadaan gizi masa lampau dan dapat dijadikan indikator keadaan
sosial ekonomi penduduk. Sedangkan kelemahan indikator TB/U yaitu kesulitan
dalam melakukan pengukuran panjang badan pada kelompok usia balita, tidak dapat
menggambarkan keadaan gizi saat ini, memerlukan data umur yang sering sulit
diperoleh di negara-negara berkembang, kesalahan sering dijumpai pada pembacaan
skala ukur, terutama bila dilakukan oleh petugas non profesional.
- Indikator Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Pengukuran antropometrik yang terbaik
adalah menggunakan indikator BB/TB. Ukuran ini dapat menggambarkan status gizi
saat ini dengan lebih sensitif dan spesifik.Menurut standar WHO-NCHS indikator
BB/TB dikelompokkan atas gemuk jika nilai Z score > + 2 SD, normal jika
nilai Z score > - 2SD s/d + 2 SD, kurus/wasted jika nilai Z score diantara
< - 2 SD s/d > - 3 SD, dan sangat kurus jika nilai Z score < - 3 SD.
Penggunaan indikator BB/TB sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan indikator BB/TB yaitu independen terhadap umur dan ras dan
dapat menilai status kurus dan gemuk dan keadaan marasmus atau KEP berat lain.
Sedangkan kelamahan indikator BB/TB yaitu kesalahan pada saat pengukuran karena
pakaian anak yang tidak dilepas/dikoreksi dan anak bergerak terus, masalah
sosial budaya setempat yang mempengaruhi orang tua untuk tidak mau menimbang
anaknya karena dianggap seperti barang dagangan, kesulitan dalam melakukan
pengukuran panjang badan pada kelompok usia balita, kesalahan sering dijumpai
pada pembacaan skala ukur, terutama bila dilakukan oleh petugas non
profesional, tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek,
normal atau jangkung.
2.2.4 Kartu Menuju Sehat
(KMS)
Kartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah alat yang sederhana
dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak.
Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu
dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan,
termasuk bidan dan dokter. KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi
ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi
kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak. KMS-Balita juga
dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan
jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk
mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatannya (Rosmawati, 2008).
KMS balita berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan
anak, imunisasi, penanggulangan diare,
pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan
Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan
rujukan ke Puskesmas/RS. KMS balita juga berisi pesan-pesan penyuluhan
kesehatan dan gizi bagi orang tua balita
tentang kesehatan anaknya. Oleh karena itu semua yang berhubungan dengan
kesehatan anak sejak lahir sampai berusia lima tahun perlu dicatat di KMS (Rosmawati,
2008).
KMS yang digunakan di pos
penimbangan diberi warna sehingga membentuk pita yang menggambarkan berat badan
baku, diberi warna hijau tua, yang kemudian warna hijau tua itu berangsur
berubah menjadi warna hijau muda dan seterusnya sampai menjadi warna kuning
yang merupakan warna bagian yang menggambarkan tingkat pertumbuhan yang kurang.
Pada bagian yang paling bawah terdapat grafik yang berwarna merah yang
menunjukkan batas bahaya. Anak-anak yang berat badannya berada di sekitar garis
merah itu adalah anak-anak yang tergolong tingkat pertumbuhan buruk (Robiah,
2007).
Penimbangan berat badan merupakan salah satu cara pengukuran yang
digunakan untuk mengetahui status gizi dan pertumbuhan anak. Pengukuran berat
badan secara teratur dapat menggambarkan keadaan gizi anak, sehingga dapat dipakai
sebagai salah satu pemantau pertumbuhan fisik anak. Berat badan merupakan
ukuran yang sensitif yang sangat dipengaruhi oleh perubahan status gizi. Pada
tingkat puskesmas atau lapangan, penentu status gizi yang umum dilakukan adalah
dengan menimbang balita (berat badan per umur), kemudian indeks berat badan
menurut umur tersebut dibandingkan dengan angka standar/anak yang normal.
Tinggi badan anak tidak akan berkurang dengan menurunnya keadaan gizi anak
tersebut (Robiah, 2007).
Hasil penimbangan dicatat di KMS, dan dihubungkan antara titik berat
badan pada KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan
ini. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik
pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik,
mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Balita naik berat badannya
bila garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau garis
pertumbuhannya naik pindah ke pita warna di atasnya. Balita tidak naik berat
badannya bila garis pertumbuhannya turun, atau garis pertumbuhannya mendatar,
atau garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna di bawahnya (Rifqi,
2009).
Berat badan balita di bawah garis merah (BGM) artinya pertumbuhan
balita mengalami gangguan pertumbuhan. Berat badan balita tiga bulan
berturut-turut tidak naik (3T) artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga
harus langsung dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit. Beberapa kemungkinan dari
hasil pencatatan berat badan balita pada KMS adalah:
a. Grafik pertumbuhan anak naik
berkaitan dengan nafsu makan anak yang baik/meningkat berarti ibu telah cukup
memberikan makanan dengan gizi seimbang.
b. Grafik pertumbuhan tidak naik
bisa dikaitkan dengan nafsu makan anak menurun karena sakit, atau karena ibunya
sakit (pola asuh tidak baik), atau sebab lain yang perlu digali dari ibu.
KMS tidak dipakai untuk mengukur status gizi tapi untuk mengetahui dan
memantau pertumbuhan anak. Berbeda dengan KMS yang diedarkan Depkes RI sebelum
tahun 2002, garis merah pada KMS versi tahun 2002 bukan merupakan pertanda gizi
buruk, melainkan garis “kewaspadaan” (Arisman, 2004). Manfaat KMS-Balita adalah
(Rosmawati, 2008) :
1. Sebagai media untuk mencatat dan memantau
riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan,
pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A,
kondisi kesehatan anak pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
2. Sebagai media edukasi bagi orang tua balita
tentang kesehatan anak.
3. Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan
oleh petugas untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan
gizi.
Berikut ini adalah contoh gambar Kartu
Menuju Sehat (Permenkes, 2010).
|
|
Gambar 2.1 KMS bagian depan
|
|
|
|
Gambar 2.2 KMS bagian belakang
Status pertumbuhan anak dapat diketahui dengan 2 cara
yaitu dengan menilai garis pertumbuhannya, atau dengan menghitung kenaikan
berat badan anak dibandingkan dengan Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM). Kesimpulan
dari penentuan status pertumbuhan adalah seperti tertera sebagai berikut:


Gambar 2.3 Contoh pengisian KMS
Contoh di atas menggambarkan status pertumbuhan
berdasarkan grafik pertumbuhan anak dalam kms:
- Tidak naik (T); grafik berat badan memotong garis pertumbuhan dibawahnya; kenaikan berat badan < KBM (<800 g)
- Naik (N), grafik berat badan memotong garis pertumbuhan diatasnya; kenaikan berat badan > KBM (>900 g)
- Naik (N), grafik berat badan mengikuti garis pertumbuhannya; kenaikan berat badan > KBM (>500 g)
- Tidak naik (T), grafik berat badan mendatar; kenaikan berat badan < KBM (<400 g)
- Tidak naik (T), grafik berat badan menurun; grafik berat badan < KBM (<300g)
2.2.5 Klasifikasi Status Gizi
1. Status gizi berdasarkan indeks
Tabel 2.1 Tabel Status Gizi Berdasarkan Indeks Antropometri
|
Status gizi
|
Indeks
|
||
|
|
BB/U
|
TB/U
|
BB/TB
|
|
Gizi Baik
|
80%
|
90%
|
90%
|
|
Gizi Sedang
|
71% - 80%
|
81% - 90%
|
81% - 90%
|
|
Gizi Kurang
|
61% - 70%
|
71% - 80%
|
71% - 80%
|
|
Gizi Buruk
|
<60%
|
<70%
|
<70%
|
Sumber: Antropometri (Yayah K Husaini Antropometri sebagai Indeks Gizi dan
Kesehatan Masyarakat. Medika NO. 8 Tahun 2007 XXXIII, 2007 : 269).
2. Penetapan status gizi berdasarkan standart klasifikasi
status gizi anak bawah lima tahun.
Keputusan menteri kesehatan RI Nomor :
920/MenKes/SK/VIII/2000) tertanggal 1 Agustus 2002. Sedangkan untuk batas
ambang merupakan hasil kesepakatan pakar gizi pada bulan Mei tahun 2000 di Sematang
mengenai Standart Buku Nasional Insonesia. Pertimbangan dalam menetapkan batas
ambang (“Cut Off Point”) status gizi adalah :
1) Antara -2 SD sampai +2 SD tidak memiliki atau beresiko
paling ringan untuk menderita masalah kesehatan.
2) Antara -2 SD sampai +3 SD atau antara +2 SD sampai
+3SD memiliki resiko cukup tinggi (“moderate”) untuk menderita masalah
kesehatan.
3) Di bawah -3 SD atau si atas +3 SD memiliki resiko
tinggi untuk menderita masalah kesehatan.
3.
Klasifikasi
status gizi anak berdasarkan pada perhitungan z-score WHO-NCHS 2005
Tabel 2.2 Klasifikasi
Status Gizi Anak Bawah Lima Tahun
|
Indeks
|
Status Gizi
|
Ambang Batas
|
|
Berat badan menurut Umur (BB/U)
|
Gizi Lebih
Gizi baik
Gizi kurang
Gizi buruk
|
> +3 SD
≥ - 2 SD sampai + 2 SD
< - 2 SD sampai ≥ - 3 SD
< - 3 SD
|
|
Tinggi badan menurut Umur (TB/U)
|
Anak
Pendek : Anak Normal :
|
< -2 SD
> -2 SD
|
|
Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
|
Sangat
Kurus :
Kurus
Normal
Gemuk :
|
< -3 SD:
> -3 Sd s/d < -2 SD:
> -2 SD s/d < +2 SD
> +2 SD
|
2.3 Konsep Balita Bawah Garis
Merah (BGM)
2.3.1 Pengertian Balita Bawah
Garis Merah (BGM)
Balita dengan Bawah Garis Merah (BGM) adalah balita dengan berat badan
menurut umur (BB/U) berada di bawah garis merah pada KMS (Anonim, 2009). Balita
BGM tidak selalu berarti menderita gizi buruk. Akan tetapi, itu dapat menjadi
indikator awal bahwa balita tersebut mengalami masalah gizi. Kartu Menuju Sehat
(KMS) merupakan suatu alat yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan
perkembangan balita, bukan untuk menilai status gizi balita. Itulah sebabnya
balita BGM dikatakan belum berarti menderita gizi kurang maupun gizi buruk. Hal
ini dikarenakan KMS diisi atas indikator BB/U, bukan TB/U. Berat badan
merupakan ukuran yang sensitif yang sangat dipengaruhi oleh perubahan status
gizi. Sedangkan tinggi badan anak tidak dipengaruhi oleh status gizi anak.
Seorang anak dikatakan tidak normal bila diukur berdasarkan BB/U. Namun,
apabila diukur berdasarkan TB/U belum tentu anak tersebut tidak normal. Itulah
sebabnya status gizi balita tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pengukuran
BB/U.
Seorang balita BGM dapat disebabkan oleh karena pola asuh anak yang
tidak baik dan sosial ekonomi keluarga yang rendah. Apabila balita BGM
diberikan perhatian yang lebih dan diberikan asupan gizi yang baik, balita
tersebut tidak akan mengalami gizi kurang maupun gizi buruk. Namun, apabila
pola asuh pada balita BGM tidak baik, akan menyebabkan anak menderita gizi
kurang atau bahkan gizi buruk. Pola asuh anak sangat berperan penting dalam
menentukan status gizi balita.
a.
Gizi Kurang
Gizi kurang merupakan penyakit defisiensi gizi yang paling
umum dijumpai di dunia dan perkiraan sekitar seratus juta anak-anak menderita
gizi kurang pada tingkat sedang dan berat. Faktor-faktor yang menyebabkan gizi
kurang ada dua, yakni penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung
yaitu dengan adanya penyakit infeksi sehingga asupan makanan berkurang yang
dapat menyebabkan gizi kurang. Penyebab tidak langsung yaitu persediaan makanan
di rumah yang kurang, perawatan anak oleh ibu dan pelayanan kesehatan yang
mempengaruhi asupan makanan dan ketersediaan pangan gizi kurang (Sinaga, 2007).
Tanda-tanda kekurangan gizi pada balita :
1. Pada pengukuran antropometri yaitu TB/U, BB/U, dan BB/TB ditemukan
tidak seimbang menurut hasil pengukuran dibandingkan dengan kriteria
antropometri.
2. Anak balita dengan gizi kurang tampak kurus, lemah, kulit keriput,
wajah pucat, sering cengeng dan rewel, terkadang apatis.
b.
Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan
kekurangan nutrisi,
atau
dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata.
Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori (Astaqauliyah,
2006). Gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni kwashiorkor, marasmus, dan
kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk biasanya terjadi pada anak balita (bawah
lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gejala umum
kwashiorkor adalah sebagai berikut :
1. edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan
wajah) membulat dan sembab
2. pandangan mata sayu
3. rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut
tanpa rasa sakit dan mudah rontok
4. terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel
5. terjadi pembesaran hati
6. otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi
berdiri atau duduk
7. terdapat kelainan kulit berupa
bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu
terkelupas (crazy pavement dermatosis)
8. sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut
9. anemia dan diare
Sedangkan
gejala umum marasmus adalah sebagai berikut:
1. badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit
2. wajah seperti orang tua
3. mudah menangis/cengeng dan rewel
4. kulit menjadi keriput
5. jaringan lemak subkutis sangat
sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai
celana longgar)
6. perut cekung, dan iga gamang
7. sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang)
8. diare kronik atau konstipasi (susah buang air)
2.3.2 Penyebab Balita Bawah Garis
Merah (BGM)
Gizi kurang disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor
pengadaan makanan yang kurang mencukupi suatu wilayah tertentu. Hal ini bisa
jadi disebabkan oleh kurangnya potensi alam atau kesalahan distribusi. Faktor
kedua adalah dari segi kesehatan sendiri, yakni adanya penyakit kronis terutama
gangguan pada metabolisme atau penyerapan makanan (Anonim, 2008).
Selain itu, tiga hal yang saling kait mengkait dalam hal gizi kurang,
yaitu kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah. Ketiga hal itu
mengakibatkan kurangnya ketersediaan pangan di rumah tangga dan pola asuh anak
keliru. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan gizi dan balita sering terkena
infeksi penyakit. Kemiskinan juga amat terkait erat pendidikan rendah. Dapat
diduga, ibu yang lahir dari keluarga miskin berisiko tinggi tidak bisa
melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Selain itu, ibu yang besar
di keluarga miskin ini akan mendapatkan seorang suami yang juga memiliki
pendidikan rendah. Dengan pendidikan rendah, umumnya akan mendapat upah rendah.
Ditambah pengaruh budaya, perilaku dan adat istiadat yang kurang sehat,
kemungkinan terjadinya gizi buruk pada keluarga seperti ini amat tinggi.
Menurut Astaqauliyah (2006), terdapat beberapa faktor penyebab gizi
kurang, yakni faktor sosial, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang
pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak, faktor kemiskinan, rendahnya
pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar sering kali tidak
bisa dipenuhi, laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan
bertambahnya ketersediaan bahan pangan, infeksi yang disebabkan oleh rusaknya
beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara
baik.
2.3.3 Dampak Kekurangan Gizi
Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek, dan
mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berpengaruh pada
rendahnya tingkat kecerdasan, karena tumbuh kembang otak 80 % terjadi pada masa
dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Risiko meninggal dari anak yang bergizi
buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan
bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak
yang jelek. Gizi buruk dapat berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan
anak, juga kecerdasan anak. Pada tingkat yang lebih parah, jika dikombinasikan
dengan perawatan yang buruk, sanitasi yang buruk, dan munculnya penyakit lain,
gizi buruk dapat menyebabkan kematian (Sinaga, 2007).
2.3.4
Pencegahan Masalah Gizi
a. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat
pertama mencakup promosi kesehatan dan perlindungan khusus dapat dilakukan
dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat terhadap hal-hal yang dapat
mencegah terjadinya kekurangan gizi. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan
tingkat pertama :
a) Hanya
memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan.
b) Memberikan
MP-ASI setelah umur 6 bulan.
c) Menyusui
diteruskan sampai umur 2 tahun.
d) Menggunakan
garam beryodium
e) Memberikan
suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe) kepada anak balita.
f) Pemberian
imunisasi dasar lengkap.
b. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua lebih ditujukan pada
kegiatan skrining kesehatan dan deteksi dini untuk menemukan kasus gizi kurang
di dalam populasi. Pencegahan tingkat kedua bertujuan untuk menghentikan
perkembangan kasus gizi kurang menuju suatu perkembangan ke arah kerusakan atau
ketidakmampuan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat kedua :
a) Pemberian
makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada balita gakin yang berat badannya
tidak naik atau gizi kurang.
b) Deteksi
dini (penemuan kasus baru gizi kurang) melalui bulan penimbangan balita di
posyandu.
c) Pelaksanaan
pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi).
d) Pelaksanaan
sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk.
e) Pemantauan
Status Gizi (PSG)
c. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat
ketiga ditujukan untuk membatasi atau menghalangi ketidakmampuan, kondisi atau
gangguan sehingga tidak berkembang ke arah lanjut yang membutuhkan perawatan
intensif. Pencegahan tingkat ketiga juga mencakup pembatasan terhadap segala
ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat masalah gizi sudah terjadi
dan menimbulkan kerusakan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat
ketiga :
a) Konseling
kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan.
b) Meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak.
c) Menangani
kasus gizi buruk dengan perawatan puskesmas dan rumah sakit.
d) Pemberdayaan
keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi.
e) Melakukan
pencegahan meluasnya kasus dengan koordinasi lintas program dan lintas sektor
dengan cara memberikan bantuan pangan, pengobatan penyakit, penyediaan air
bersih, dan memberikan penyuluhan gizi.
2.4 Kerangka Kerja
Konseptual/Framework Malnutrisi
(UNICEF, 2004)
Kerangka kerja konseptual malnutrisi oleh UNICEF (2004) menunjukkan
tingkatan ganda intervensi untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian yang
berhubungan dengan malnutrisi. Untuk mencegah dan mengatasi malnutrisi
faktor-faktor yang menjadi penyebab harus di evaluasi. Antara lain immediet factor, underlying factor, dan basic factor. Gambar framework
malnutrisi oleh UNICEF (2004) sebagai berikut :
Gambar 2.4 UNICEF
conceptual framework of the causes of malnutrition (positive/negative)
(UNICEF, 2004)
Berdasarkan gambar di atas maka, factor-faktor
yang mempengaruhi keadaan malnutrisi antara lain:
1.
Immediet
factor/ faktor langsung
a. Asupan
diet yang tidak efektif (PEM= protein
energy malnutrisi) disebabkan oleh :
-
Adanya praktek sosial
atau budaya di masyarakat tersebut seperti “makanan tabu”
-
Adanya migrasi dari desa
ke kota
-
Penelantaran pada anak
(neglect)
-
Jam makan yang abnormal
dengan orang tua atau pengasuh atau kuantitas makanan yang tidak cukup karena
pengetahuan orang tua, nafsu makan turun dan neglect, physical atau emotional
abuse pada anak.
-
Ibu membatasi asupan
makanan anak. Ini bisa karena ibu tidak ingin anak atau karena
anak kedua lahir dan tidak ada uang yang cukup untuk membeli makanan bagi
keluarga
-
Penurunan
pendapatan dan penurunan kualitas serta kuantitas makanan. Fakta telah
menunjukkan bahwa pengangguran, upah rendah-sedang,
keluarga makan makanan yang lebih murah, kurang bergizi turut menyebabkan penurunan berat
badan dan kekurangan gizi
-
Bila pemberian
ASI eksklusif tidak dilakukan maka hal ini berkontribusi pada tingginya prevalensi gizi buruk
-
Selain
itu,praktek menyapih bayi yang tidak
memadai dan praktik pemberian makan yang buruk menyebabkan protein
rendah dan asupan energi
b. Infeksi
penyakit
c. Perawatan
Psikososial
2. Underlying factor/faktor
yang mendasari/ faktor tidak langsung
a. Keamanan
pada makanan keluarga ( kemampuan keluarga untuk mendapatkan makanan setiap
saat).
-
Ketersediaan
makanan
-
Stabilitas
pasokan makanan
-
Akses
mendapatkan makanan
-
Pemanfaatan
makanan
-
Ukuran dan
komposisi keluarga
-
Kesetaraan
gender
-
Aturan
distribusi makanan dalam rumah tangga
-
Pendapatan
-
Ketersediaan dan
akses terhadap pangan
-
Kemiskinan
-
Dan kematian
pencari nafkah
-
Miskin produksi
pertanian
-
Kerusakan
infrastruktur dan Pasar
-
Kehilangan
pendapatan
-
Hilangnya ternak
-
Tanah tidak
cukup untuk produksi makanan
b. Perawatan
ibu dan anak yang tidak adekuat
-
Kondisi bayi
yang buruk dan perilaku membesarkan anak yang kurang tepat
-
Kesalahpahaman
tentang makanan, makan yang tidak
memadai selama sakit (terutama penyakit menular dan
diare)
-
Distribusi
makanan yang tidak tepat antara anggota keluarga
-
Perawatan ibu
(sebelum, selama dan setelah hamil) yang kurang
-
Tingkat
kelahiran yang tinggi
-
Praktek
perawatan anak juga termasuk melindungi makanan anak-anak dan minuman dari
kontaminasi untuk mengurangi risiko infeksi. Tangan yang tidak bersih seorang
pengasuh juga dapat menyebabkan infeksi seperti diare.
-
Pengetahuan dan
pendidikan ibu terkait ASI eksklusif dan pengenalan makanan pengganti yang
tertunda
-
Kesehatan
ibu yang buruk dan status gizi ibu, anemia, merokok, usia ibu, akses masyarakat miskin terhadap
pelayanan kesehatan
-
usia, dan berat badan
lahir balita
c. Ketidakadekuatan
pelayanan kesehatan dan lingkungan
-
Kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan
-
Imunisasi yang tidak lengkap
-
Lingkungan yang tidak sehat
-
Kepadatan penduduk
-
Kekurangan air dan air kotor
-
Sanitasi yang buruk
-
Kebersihan rumah tangga miskin
-
Jarak limbah dengan
rumah, penyimpanan lama makanan yang sudah dimasak, makan dengan tangan
yang tidak bersih dan penyimpanan makanan serta air dalam wadah yang tidak
tertutup.
d. Pengetahuan dan pendidikan
-
Kurangnya
informasi dan pengetahuan gizi
-
Pendidikan ibu
3. Basic Factor/Faktor
Dasar
a. Status
Sosio ekonomi
-
Kepemilikan rumah
b. Kontrol sumber daya (politik,
sosial, ideologi dan ekonomi),
c. kerusakan lingkungan,
d. pertanian,
e. perang, ketidakstabilan politik
f. urbanisasi, pertumbuhan penduduk dan ukuran,
g. distribusi, konflik,
perjanjian dagang dan bencana alam,
h. faktor agama dan budaya
i.
pasar karena
penurunan ekonomi, konflik dan gejolak politik yang dapat menyebabkan penurunan hasil panen pangan
dan kenaikan harga.
Kesimpulannya,
kerangka konseptual ini berhubungan dengan sumberdaya manusia dan lingkungan,
system ekonomi dan factor politik ataupun ideologic yang mempengaruhi kejadian
malnutrisi. Model ini berhubungan dengan factor penyebab terjadinya under nutrition dengan beragam
status/tingkat social. Immediate factor berkaitan
berhubungan dengan individu, underlying
factor berhubungan dengan keluarga
dan basic factors berhubungan dengan komunitas dan nasional. Berkaitan dengan
hal tersebut, semakin banyak penyebab
yang tidak langsung ditemukan, maka semakin luas populasi yang mengalami
permasalahan status nutrisi (De Lange, 2010).
No comments:
Post a Comment