Sunday, December 16, 2012

Maternitas Note 2



KETUBAN PECAH DINI/PREMATUR (KPP/KPD)

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI CAIRAN KETUBAN
Cairan ketuban adalah cairan yang terdapat pada kantung amnion. Cairan ini 98% terdiri dari air dan sisanya garam anorganik dan bahan organic. Cairan ketuban dihasilkan oleh selaput ketuban dan dibentuk dari sel-sel amnion+air+kencing janin+ cairan otak anensefalus. Selaput ketuban memiliki dua lapisan yaitu lapisan terluar yang tebal disebut KONION dan lapisan dalam yang tipis disebut AMNION.

Pada ibu hamil, jumlah cairan ketuban sangat beragam. Normalnya antara 1-1,5 liter. Namun bias kurang atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Diperkirakan janin menelan sekitar 8-10 cc air ketuban atau 1% dari seluruh volume/jam. Normal air ketuban berwarna putih serta memiliki bau yang khas agak amis dan manis. Fungsi air ketuban, antara lain:
1. sebagai pelindung yang akan menekan janin dai trauma atau benturan
2. melindungi dan mencegah tali pusar dari kekeringan yang dapat menyebabkan mengerut sehingga menghambat penyaluran O2.
3.  Berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrient bagi janin untuk smentara
4. memungkinkan janin bergerak lebih bebas, membantu system pencernaan, otot tulang, system pernapasan janin agar berkembang dengan baik.
5. menjadi incubator à menjaga kehangan disekitar janin
6. pada saat persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan sehingga leher rahim membuka

B. PENGERTIAN KPP
Ketuban pecah dini/premature adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu (Ida bagus, 2001 dalam anonym, 2010). Menurut Saifudin (2002) KPP bias terjadi pada kehamilan preterm (< 37 minggu)maupun aterm  (37-42 minggu).
Prinsip dasar KPP/KPD antara lain adalah:
1. KPP terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
2. KPP berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khorio karsinoma.
3. KPP terjadi karena berkurangnya kekuatan membrane dan meningkatnya tekanan intrauterine
4. penanganan KPP ,empertimbangkan usia gestasi, infeksi dan ada atau tidaknya tanda persalinan.

C. ETIOLOGI KPP
Penyebab pasti masih belum diketahui, KPP terjadi akibat multifaktorial yang meliputi:
1. serviks inkompeten : kanalis servikal yang selalu terbuka karena kelainan (akibat persalinan, kuretase)
2. infeksi pada selaput ketuban
3. tekanan intrauterine yang meningkat berlebihan akibat trauma, hidramnion, gemili.
4. kelainan letak misanya letak sungsang sehingga tidak ada bagian terendah yag menutupi PAP
5. rauma oleh beberapa ahli
6. Keadaan social dan ekonomi yag rndah sehingga kurang kualitas perawatan antenatal, PMS misalnya clamidia trachomalis dan Neisheria gonore.
7. factor lain seperti: 1) disproporsi antara kepala janin dengan panggul ibu; 2) multigravida, merokok, perdarahna antepartum; 3) defisiensi vit. C dan tembaga.

D. MANIFESTASI KLINIS KPP
1. keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan sedikit-sedikt atau sekaligus banyak.
2. dapat disertai demam jika terjadi infeksi
3. janin mudah diraba
4. pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban kering.
5. inspekulo: air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban kering.

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSA
Diagnose KPP ditegakkan dengan cara:
1. anamnesa : penderita merasa basah pada vagina dan mengeluarkan cairan banyak secara tiba-tiba.
2. pemeriksaan dengan speculum: KPP akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE).
3. pemeriksaan laboratorium : cairan yang keluar diperiksa warna, konsistensi, bau, dan PH. Cairan yang keluar dari vagina selain air ketuban mungkin juga urin atau secret vagina. Secret vagina ibu hamil pH 4-5 dengan kertas nitrazin tidak berubah warna (tetap kuning).
4. tes lakmus (tes Nitrazin) : jika kertas lakmus merah à BIRU menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7-7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
5. mikroskopis (tes pakis)à menunjukkan gambaran daun pakis
6. USG à untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam cavum uteri
7. protein c-reaktif à peningkatan protein c-reaktif serm menunjukkan tanda korioamnionitis.

Diaagnosa infeksi intrapartum:
1. febris > 38oC/>37,8oC
2. ibu takikardi (denyut > 100 kali/menit)
3. fetal takikardia (> 160 kali/menit)
4. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
5. cairan manion berwarna keruh/hijau dan berbau
6. laukosit pada pemeriksaan darah tepi (> 15000-20000/mm3)
7. pemeriksaan penunjang lainnya: leukosit esterase positif, pemeriksaan gram, kultur darah.

F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tergantung pada umur kehamilan. Bila umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan USG untuk mengetahui umur kehamian dan letak janin.

1. penatalaksanaan KPP pada kehamilan aterm (> 37 minggu)
Jarak antara pecahnya ketuban dan prmulaan dari persalinan disebut LP= lag periode= periode laten. Semakin muda umur kehamilan maka semakin panjang LP. Sekitar 70%-80% kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam waktu 24 setelah kulit ketuban pecah. Bila 24 am tidak ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi persalinan, bila gagal dilakukan operasi Caesar.
Selama proses persalinan ibu diberi antibiotic denan tujan profilaksis (mencegah terhadap chorioamnion) karena proses persalinan umumnya berlangsung 6 jam atau lebih dan memiliki peluang terjadi infeksi. Mempersingkat periode laten durasi KPD dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma obstetric karena partus dapat dikurangi.
Induksi persalinan dilakukan dengan memperhatikan Bishop score, jika > 5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya < 5 dilakukan pematangan serviks, jika tidak berhasil persalinan dengan seksio Caesar. Berikut skema algoritma penanganan KPP kehamilan aterm:
Skor > 5
Skor < 5
Pematangan dengan oksitosin /prostaglandin
Skor > 5
KPP
Skor perlvik > 5
Skor  pelvic < 5
Ketuban pecah 6-8 jam
Konservatif max 48 jam (24 jam sudah mulai dinilai)
Pematangan sevik dengna oksitsin (12 jam) atau prostaglandin
Skor < 5
SC
Belum inpartu
inpartu
Induksi oksitosin
Berhasil
Gagal
SC
Partus pervaginam
Partus pervaginam
Belum inpartu
inpartu
Induksi oksitosin
Berhasil
Gagal
SC
Partus pervaginam
Partus pervaginam
Belum inpartu
inpartu
Induksi oksitosin
Berhasil
Gagal
SC
Partus pervaginam
Partus pervaginam
 
2. Penatalaksanaan KPP pada kehamilan preterm (< 37 minggu)
Pengelolaan bersifat konserfatif dan pemberian antibiotic yang adekuat sebagai profilaksis. Tujuan konservatif adalah pemberian kortikosteroid pada KPP agar tercapai kematangan paru. Jika selama tindakan konservatif muncul tanda-tanda infeksi maka segera induksi persalinan. Jika induksi persalinan gagl bias diselesaikan dengan bedah sesar.
Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leukosit darah tepi setiap hari, pemeriksaan TTV terutama suhu setiap 4 jam, pengawasan DJJ, pemberian antibiotic mulai saat diagnose ditegakkan sampai setiap 6 jam. Pemberian kortikosteroid dapat menurunkan kejadian RDS. Bagan penalataksanaan dapat dilihat sebagai berikut:

Ketuban pecah prematur
konservatif
Terdapat tanda infeksi/ kehamilan mencapai 36 minggu
Kehamilan < 32 minggu
Kehamilan 32-36 minggu
Janin mati
Janin hidup
Janin mati
Janin hidup
Partus pervaginam dan induksi oksitosin
SC dengan persetujuan keluarga
Letak memanjang
Letak melintang
Partus pervaginam & induksi oksitosin
Partus pervaginam dg embriotomi
Letak memanjang
Letak melintang
Partus pervaginam dan induksi oksitosin
Gagal induksi oksitosin
SC dengan persetujuan keluarga
 



G. KOMPLIKASI
1.  distosia (partus kering)
2. ARDS (10%-40%)
3. Infeksi (korioamnionitis)
4. prolaps tali pusar
5. resiko kecacatn dan kematian pada KPP
6. hipoplasia paru (100% pada KPP < 23 minggu)
7. Infeksi intrapartum. Pada ibu: endometritis, penurunan aktivitas miometrium (distonia, atonia), sepsis, syock septic sampai kematian ibu. Pada janin: asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. prenatal/intranatal/sebelum tindakan
a. resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entri kuman
b. resiko tinggi gawat janin berhubungan dengan gangguan supali oksigen dan nutrisi
c. hipertermi berhuungan dengan adnya prose infalmasi
d. ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap gejala dan tindakan yang dialami
e. resiko cedera pada janin berhubngan dengan hilangnya lapisan barier/pelindung

2. postpartum/ setelah tindakan
a. PK; perdarahan
b. PK; anemia
c. Nyeri akut berhubungan dengan adanya proses inflamasi pada luka pos operasi
d. deficit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan pos partum
e. ansietas berhubungan dengan gejala yang dialami
f. gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kesulitas flatus efek dari anastesi
g. kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan bayi dan perawatan ibu pos partum
h. resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka port de entri kuman
i. resiko ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan ASI tidak keluar & payudara bengkak

Daftar pustaka:
Ahmar.2011. persalinan KPD. http://download.ziddu.com
Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 jilid 1. Jakarta:EGC
Wikipedia. 2010.Air ketuban. http://id.wikipedia.org

No comments: